Beranda / Cerita Kami / Artikel

Puisi Berbahasa Daerah Jadi Pemersatu dalam Peluncuran Buku Desa Damai

Kedelapan pemudi yang mengenakan pakaian putih hitam berjalan mengisi podium Golden Ballroom, tempat diselenggarakannya acara NUSANTARA sekaligus peluncuran buku Desa Damai, di The Sultan Hotel and Residence Jakarta, Jumat (8/2).  Rona gugup mewarnai wajah salah satu pemudi yang berjalan sedikit maju ke pengeras suara dan dengan lantang penuh keyakinan berujar…

Tak ngoladhi ponapa berna kole' tor pasera bengaseppo epon

(Tak Peduli apa warna kulitmu dan siapa kakekmu )

Abdhina tor ajunan sadheje settong dhalem jeg jeghe pancasila

(Kita satu dalam tegaknya Pancasila)

Pemudi tersebut adalah Aisyah asal Sumenep yang membacakan penggalan puisi berjudul Indonesiaku Damai. Aisyah merupakan salah satu peserta Youth Camp di Malang 13-16 Desember 2018 lalu. Puisi berbahasa Sumenep ini dibawakan Aisyah dalam pembukaan acara peluncuran buku Panduan Pelaksanaan 9 Indikator Desa/Kelurahan Damai.

“Alumni peserta Youth Camp ingin berkontribusi dalam acara Wahid dengan membacakan puisi tapi menggunakan bahasa daerah. Penggunaan bahasa daerah dilakukan untuk menunjukkan keberagaman Indonesia, jelas Nailah (22), pemudi lain yang turut menjadi pembaca puisi karya Budiaman tersebut.

Ada beberapa bahasa daerah yang digunakan yaitu Bali, Nusa Tenggara Timur, Melayu Jambi, Taliwang dan Minang. Buat Nailah sendiri, selain menularkan semangat persatuan pemudi lewat pembacaan puisi, acara peluncuran buku Desa Damai sekaligus kumpul kangen dengan teman-teman alumni. “Alhamdulillah banget, bisa ketemu lagi dengan teman-teman youth camp dan bisa berpartisipasi dalam acara Wahid,” papar pemudi yang tinggal di Depok ini.

Pemudi berkulit hitam manis ini berharap dengan adanya Desa Damai bisa mengubah mind set masyarakat terkait toleransi, “Karena toleransi bukan hanya untuk mereka yang berbeda agama tetapi juga berbeda pemahaman tapi masih satu agama,” jelasnya ringkas.

Penuturan yang sama juga disampaikan Inggit Larasati (23) dari Desa Nglinggi yang juga turut ambil bagian dalam pembacaan puisi. Bahkan puisi Indonesiaku Damai adalah bikinan sahabat Inggit, Budiaman (27), mahasiswa UIN Yogyakarta yang menurutnya jago membuat puisi. “Saya meminta Budiaman untuk menuliskan puisi perdamaian untuk acara Wahid, dan dia langsung menuliskannya,” terang Inggit.

Semangat keselarasan berkontribusi pada acara peluncuran buku Desa Damai telah membuat delapan pemudi dapat menyelesaikan latihan pembacaan puisi dalam waktu singkat dengan hasil yang maksimal.

Berikut adalah puisi utuh Indonesiaku Damai yang dibawa oleh pemudi-pemudi alumni Youth Camp:

Indonesia adalah tempat dimana beta berpijak

(Indonesia adalah tempat dimana ku berpijak)

Memberi beta kehidupan sejuk nan abadi

(Memberikanku kehidupan sejuk nan abadi)

 

Kedamaian hatee teurasa syahdu

(Kedamaian kalbu terasa syahdu)

Tempat bersatu tanyoe bersama tanpa kaloen perbedaan

(Dimana bersatu padu bersama tanpa melihat perbedaan)

 

Tak ngoladhi ponapa berna kole' tor pasera bengaseppo epon

(Tak Peduli apa warna kulitmu dan siapa kakekmu )

Abdhina tor ajunan sadheje settong dhalem jeg jeghe pancasila

(Kita satu dalam tegaknya Pancasila)

 

Ingatlah kawan kito satu dalam merah putih

(Ingatlah kawan kita satu dalam merah putih)

Semuo samo dalam balutan damai indonesia

(Semua sama dalam balutan damai Indonesia)

 

 

Saling miegan ten kel mragatang napi

(Caci-mencaci bukanlah budaya kita)

Saling miegan nike ten je budaya kita

(Saling membenci bukanlah ciri kita)

 

Bangunlah kau wahai pemudi

(Bangunlah kau wahai pemudi)

Nyalaek semangat persatuan pade bumi tercinte

(Nyalakan semangat persatuan pada bumi tercinta)

 

Semate api kelenge anu berkobar

(Padamkan api kebencian yang berkorbar)

Sirami ke ai gering sebalong perangemu

(Sirami dengan air sejuk damai tingkah lakumu)

 

Damailah nagari wak majulah bangsa wak

(Damailah negeriku majulah bangsaku)

Tunjukan pado dunia awak mampu rukun basamo

(Tunjukanlah pada dunia kita mampu rukun bersama )

Sampaikan pado dunia damainyo nagari ko

(Sampaikan pada dunia damainya negeri ini)

 

Indonesia bersatu. rukun. Dan damai

 

Oleh: Ester Pandiangan

Wilayah Program

Partner Kami

Inisiatif  Desa Damai bertujuan untuk mengatasi ancaman radikalisme dengan memberdayakan masyarakat, satu desa pada satu waktu, melalui penguatan kohesi sosial, ketahanan masyarakat, serta meningkatkan kesetaraan sosial dan penghormatan terhadap keberagaman.

Hubungi Kami

Berkolaborasi Dengan