Audiensi Wahid Foundation di Kantor Bupati Malang
Senin (28/1), tim WISE Engagement dari Wahid Foundation melakukan audiensi ke kantor Bupati Malang. Ada beberapa agenda dalam kunjungan tersebut, beberapa diantaranya adalah meng-update seputar kegiatan WISE di Malang terutama di Kelurahan Candirenggo, mencari peluang kerja sama antara program-program Wahid dengan pemerintah daerah Malang serta penyampaian undangan peluncuran buku Panduan Penerapan 9 Ciri Desa Damai yang akan diadakan pada 8 Februari 2019, di Hotel Sultan Jakarta.
Audiensi yang diadakan di Pendopo Kabupaten Malang ini dibuka oleh Visna Vulovik selaku Program Manager dari WISE Engagement dengan menyampaikan latar belakang berdirinya Wahid Foundation serta garis besar program WISE di mana Candirenggo merupakan salah satu kelurahan yang mendeklarasikan diri sebagai Desa/Kelurahan Damai.
Dalam hal ini Visna menjelaskan kenapa Candirenggo masuk ke potensi desa damai karena dari segi gotong-royong yang menjadi akar budaya di desa tersebut yang dapat dikembangkan dan sangat bisa menjadi percontohan untuk desa-desa lainnya.
Setiap tahun Wahid Foundation melakukan penelitian peran perempuan dan dari hasil penelitian tersebut terlihat bahwa potensi perempuan memiliki ruang yang luas untuk menyokong usaha perdamaian. Inilah salah satu alasan mengapa Wahid Foundation menjadikan perempuan sebagai aktor utama untuk menyebarkan nilai-nilai toleransi dan perdamaian.
Sebagai bagian dari desa damai dampingan Wahid Foundation, Kelurahan Candirenggo terlibat dalam segala bentuk kegiatan wirausaha dan pelatihan untuk pengembangan diri. “Pemberdayaan ekonomi perempuan adalah salah satu usaha untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga termasuk juga partisipasi aktif perempuan dalam kegiatan bidang sosial ekonomi di lingkungan Candirenggo,” kata Visna Vulovik juga menginformasikan bahwasanya produk UKM perempuan Kelurahan Candirenggo sudah diperkenalkan ke tiga negara yaitu Malaysia, Singapura, dan Jepang.
Terkait apa yang disampaikan Visna mengenai pemberdayaan ekonomi perempuan, Sendy salah satu ibu dari Kelompok Dampingan Wahid Foundation yang hadir dalam audiensi tersebut mengatakan faktor ekonomi adalah salah satu tolak ukur kesejahteraan keluarga. “Di Wahid Foundation ada Koperasi Cinta Damai yang bisa diakses sebagai sumber modal bagi anggota kelompok. Pengadaan pelatihan yang juga dilakukan WF adalah upaya lain meningkatkan kapasitas untuk menyejahterakan ekonomi keluarga,” tambah ibu yang juga merupakan anggota Kelompok Karya Wanita Bunda ini.
Sekretaris Daerah Abdul Qodir yang mewakili Bupati Malang menyambut baik proses audiensi yang dilakukan oleh pihak Wahid Foundation. Menurutnya, apa yang sudah dilakukan oleh Wahid Foundation sudah sangat baik dalam membangun kemajuan bangsa karena pemerintah memang tidak bisa bekerja sendiri dalam membangun negara. “Tiga strategi pembangunan Kabupaten Malang juga sudah masuk ke dalam program WISE Wahid Foundation yaitu pemberdayaan ekonomi untuk mengentaskan kemiskinan, pemberdayaan pariwisata serta pemberdayaan lingkungan hidup yang digalakkan melalui kegiatan Bank Sampah,” jelas Abdul Qodir.
Setelah melakukan tukar menukar cinderamata, audiensi dilanjutkan dengan dialog yang juga melibatkan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Inspektorat Kabupaten Malang, Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil, Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik, Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Mikro, Dinas Perikanan Kabupaten Malang, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional, dan Camat Singosari.
Holidin dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPA) sempat menanyakan kemungkinan kerja sama antara Dinas PPA dan Wahid Foundation yang langsung ditanggapi oleh Visna kalau Dinas PPPA dapat berperan dalam Rencana Aksi Nasional Perlindungan dan Pemberdayaan Perempuan dan Anak dalam Konflik sosial yang akan diadakan di Jakarta.
Beberapa tema lain yang menjadi pokok diskusi seperti yang disampaikan oleh Dr. Ratih dari Dinas Kesehatan Kabupaten Malang, di mana diharapkan ada program WF yang berkaitan dengan gizi ke depannya.
Diakui Sekar selaku Koordinator Wilayah Jawa Timur untuk WF, bahwa sejauh ini WF baru mendatangi dinas-dinas yang terkait dengan program. “Bukan tak mungkin ke depannya WF bisa menyokong program lain yang menjawab kebutuhan masyarakat secara lebih luas lagi,” ujar Sekar.
Oleh: Ester Pandiangan




